bulan sudah juni, tapi hujan masih turun saja. padahal waktu masih di sekolah dasar, guru bilang musim kemarau di indonesia berlangsung dari bulan april sampai oktober, dan musim hujan mulai oktober sampai april. sepertinya keadaan sedkarang tidak seperti itu.
buktinya, ini sudah pertengahan tahun, dan hujan masih saja turun hingga kemarin di kampungku, di yogya. kemarin itu pagi hingga siang begitu cerah, mathari pun sungguh terik. tapi tiba-tiba sore harinya hujan turun lumayan deras, meskipun nggak lama.
sementara itu, kondisi udara terasa berubah-ubah tak keruan. seperti semalam, terasa dingin ketika sebelum menginjak jam nol-nol. namun di saat menjelang pagi, yang biasanya tambah terasa dingin, malah terasa gerah. saya bahkan berkeringat. aneh bener deh!
ya inilah yang mungkin dibilang salah musim. orang jawa menyebutnya dengan “salah mongsoâ€. musim sudah berubah, kacau balau. makanya, para ahli dan pemerhati lingkungan di tingkat dunia sibuk berembuk, untuk mengatasi segala kekacauan dan kerusakan. tapi apa hasilnya? bukannya membaik, tapi kondisinya makin memburuk.
iklim tambah kacau, hutan kian gundul, sungai mengering, tanah semakin tandus. bisa dibayangkan betapa mengerikan yang bakal terjadi di masa depan.
bicara soal lingkungan memang tak bisa lepas dari unsur-unsur lainnya. misalnya seperti unsur ekonomi dan politik. di sinilah masalah lingkungan sulit menemukan jalan penyelesaiannya. manusia tidak sekadar butuh lingkungan yang hijau dan damai, tapi juga butuh kemakmuran dan kekuasaan. malahan yang disebut terakhir itu yang dominan. jadi, kalau lingkungan terabaikan dan menjadi rusak, memang manusianya yang menghendaki demikian.
sampai di sini saya teringat kata-kata chekhov yang dikutip dalam buku “batas nalar”: “manusia dianugerahi nalar dan kemampuan mencipta sehingga ia dapat menambah apa yang sudah diterimanya. namun demikian, hingga sekarang manusia belum jadi pencipta, cuma perusak.” nah, kalau ada kekakacauan lingkungan alam, yang bikin ya manusianya sendiri. awaké dhéwé, dab!
Berbagi