ada (e)mas di tugu jogja

Juni 19th, 2008

suatu petang di bulan ini saya, bersama beberapa teman, puter-puter jogja. critanya mau cari angkringan yang enak buat kongkow dan ngobrol. di tengah ngobrol sana-sini, saat melewati tugu yang berada tepat di tengah perempatan itu, seorang kawan yang bernama joko tiba-tiba nyeletuk: “ada masnya lo di puncak tugu”. “emangnya monas,” sahut bambang. joko lalu bilang, “kalo nggak percaya coba deh sampeyan (sembari menoleh ke bambang) memanjat ke pucuknya, nanti pasti akan ada (e)mas bambang.” hahahaha… tawa semua orang. dasar dagelan ndeso… :))


salah musim, salahmu déwé

Juni 15th, 2008

bulan sudah juni, tapi hujan masih turun saja. padahal waktu masih di sekolah dasar, guru bilang musim kemarau di indonesia berlangsung dari bulan april sampai oktober, dan musim hujan mulai oktober sampai april. sepertinya keadaan sedkarang tidak seperti itu.

buktinya, ini sudah pertengahan tahun, dan hujan masih saja turun hingga kemarin di kampungku, di yogya. kemarin itu pagi hingga siang begitu cerah, mathari pun sungguh terik. tapi tiba-tiba sore harinya hujan turun lumayan deras, meskipun nggak lama.

sementara itu, kondisi udara terasa berubah-ubah tak keruan. seperti semalam, terasa dingin ketika sebelum menginjak jam nol-nol. namun di saat menjelang pagi, yang biasanya tambah terasa dingin, malah terasa gerah. saya bahkan berkeringat. aneh bener deh!

ya inilah yang mungkin dibilang salah musim. orang jawa menyebutnya dengan “salah mongso”. musim sudah berubah, kacau balau. makanya, para ahli dan pemerhati lingkungan di tingkat dunia sibuk berembuk, untuk mengatasi segala kekacauan dan kerusakan. tapi apa hasilnya? bukannya membaik, tapi kondisinya makin memburuk.

iklim tambah kacau, hutan kian gundul, sungai mengering, tanah semakin tandus. bisa dibayangkan betapa mengerikan yang bakal terjadi di masa depan.

bicara soal lingkungan memang tak bisa lepas dari unsur-unsur lainnya. misalnya seperti unsur ekonomi dan politik. di sinilah masalah lingkungan sulit menemukan jalan penyelesaiannya. manusia tidak sekadar butuh lingkungan yang hijau dan damai, tapi juga butuh kemakmuran dan kekuasaan. malahan yang disebut terakhir itu yang dominan. jadi, kalau lingkungan terabaikan dan menjadi rusak, memang manusianya yang menghendaki demikian.

sampai di sini saya teringat kata-kata chekhov yang dikutip dalam buku “batas nalar”: “manusia dianugerahi nalar dan kemampuan mencipta sehingga ia dapat menambah apa yang sudah diterimanya. namun demikian, hingga sekarang manusia belum jadi pencipta, cuma perusak.” nah, kalau ada kekakacauan lingkungan alam, yang bikin ya manusianya sendiri. awaké dhéwé, dab!


memberi, bukan menerima se-banyak2-nya

Juni 14th, 2008

sore ini, di pinggiran jl cik di tiro yogya, saya teringat kembali wawancara kyai mansyur yang pernah dimuat “intisari”. panjang lebar dia bicara tentang the power of sedekah. intinya, orang tak perlu menunggu kaya untuk bersedekah.

katanya, tidak alasan untuk tidak bersedekah. tidak ada alasan bahwa seseorang tidak punya apa-apa di rumahnya. masak sih di rumah bisa dengerin radio, nonton tipi, tapi tak bisa bersedekah? bersedekah tidak akan membuat seseorang menjadi miskin. bahkan, menurut sang kyai, bersedekah menjadikannya kian kaya. semakin banyak memberi, semakin banyak pula yang akan diterima.

sampai di sini, saya juga jadi ingat kata-kata dalam novel laris “laskar pelangi” karya andrea hirata: hidup adalah memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.

yen dak pikir-pikir, kadang kita, termasuk saya sendiri, terasa berat sekali untuk menyisihkan sedikit dana guna membantu orang lain yang perlu dibantu. padahal, kalau berkait dengan kesenangan diri sendiri, dana seberapapun akan dilepas. rasanya pola semacam itu perlu diubah. paling tidak dengan kata-kata kyai mansyur dan andrea hirata, kita bisa belajar agar tidak terlalu rakus, dan tak abai terhadap lingkungan. apalagi di zaman yang tak begitu menguntungkan ini.

so, urusan kita sekarang adalah memberi sebanyak-banyaknya. soal menerima, itu bukan urusan kita.


kurang peduli bahasa

Juni 11th, 2008

media massa, entah itu cetak atau elektronik, yang katanya punya misi mencerdaskan bangsa, ternyata kurang punya kepedulian pada penggunaan bahasa indonesia, yang notabene adalah bahasa kita sendiri. memang tidak semua media, tapi ada beberapa yang masih tidak tepat dalam berbahasa.

cobalah kita tengok penggunaan kata “nuansa”. saya melihat tulisan di majalah berbunyi “restoran ini menawarkan nuansa etnik pada interiornya”. periksa deh di kamus besar bahasa indonesia (kbbi) apa arti nuansa. kurang lebih artinya adalah perbedaan yang sangat tipis. lalu apa yang dimaksudkan dengan “nuansa etnik”? di sini si penulis sepertinya mengarah pada “suasana”. nah, mestinya ditulis saja suasana atau sentuhan etnik.

itu baru satu contoh. ada lagi sebuah harian beberapa waktu lalu yang menulis “gus dur mau dibunuh” (berkait bentrokan di monas baru-baru ini). masak sih gus dur mau? sepertinya nggak ada orang yang mau dibunuh. ternyata maksudnya adalah “gus dur akan dibunuh”. jelas ini melenceng banget kan dari yang dimaksud?

ada lagi nih: “warga jakarta makin acuh pada lingkungan”. apa yang aneh di kalimat itu? penggunaan kata “acuh”. dalam kbbi, acuh berarti peduli. padahal yang dimaksud sebenarnya adalah bahwa warga jakarta makin tidak peduli pada lingkungan. jadi, kata-kata yang dipilih seharusnya “tidak/tak acuh”. dan masih banyak lagi.

nah, bagaimana hendak mencerdaskan bangsa kalau yang diberikan selalu hal-hal yang salah? ya yang muncul adalah salah kaprah. yang salah ditularkan terus menerus sehingga diterima sebagai kebenaran. mungkin gitu ya awalnya korupsi di negeri ini sehingga menular dan membudaya. akhirnya, yang tidak korupsi malah dianggap salah. nah lo…


kok makin nggak mutu ya…

Juni 10th, 2008

belakangan ini berita-berita didominasi persoalan ahmadiyah, fpi, akkbb, dan sejenisnya. bosen juga sih dengerinnya. dan kayanya juga nggak menyangkut hajat hidup orang banyak. kabar kenaikan bbm yang nggak populer, yang mestinya menjadi isu utama, justru tenggelam. kenapa semua media (koran, majalah, radio, televisi) bisa membuat berita utama yang sama. ada yang ngatur kali ya?! dalam ranah politik, kata orang-orang pinter, hal semacam itu sangat mungkin terjadi. jadi, jangan keburu percaya bahwa semua isu itu terjadi secara alami. segala hal tak terlepas dari kepentingan, entah individu atau kelompok. kok gitu ya… ora mutu babar blas! :(